Cerita dimulai ketika bulan september 2013, dimana saat itu ospek masuk perkuliahan diadakan di salah satu kampus tekemuka di lampung, dan aku salah satu mahasiswa di kampus tersebut. Pada saat hari pertama ospek seluruh kelompok ospek disuruh untuk memperkenalkan dirinya masing-masing, satu persatu perkenalan pun dilakukan, dan pandangam aku teralihkan ketika salah satu teman kelompok aku memperkenal kan diri, paras wajahnya yang polos, yang lugu, dan senyumnya yang manis membuat hati ku deg-degan melihat wajahnya dan suaranya yang lembut. "nama saya Dinda, saya dari daerah lampung utara, saya Dari SMA N 1 lampung utara, terima kasih".
Perkenalan singkatnya yang sangat berkesan, bagaimana tidak, diantara satu kelompok yang terdiri dari 30 orang 21 laki-laki dan 9 perempuan hanya dia yang berjilbab, jilbab nya yang lebar serta rapi membuat orang yang diajak berbicara pasti tenang hatinya. Tak hanya jilbabnya yang lebar, tapi sanggul yang besar membuat hati saya penasaran, seberapa panjang rambut dia yang tertutup oleh jilbab. Penasaran ini pun sampai hingga perkuliahan dimulai.

Setelah ospek selesai,perkuliahan dimulai, dan tak kusangka saya sekelas dengan dinda, dinda atmajaya putri lengkapnya, dia berbeda dengan pertama kali bertemu saat ospek, wajahnya lebih cerah,jilbabnya yg lebih lebar serta sanggulnya juga lebih besar, dua jam perkuliahan hanya saya gunakan untuk memandangi rambut yg tertutup jilbab.
Hati ini resah setiap malam memikirkan rambut dinda yg tak tau seberapa, berbagai cara aku gunakn untuk mengetahui seberpa panjang rambut dinda, saya menanyaka pada teman baiknya di kampus yang bernama ayu, yang setiap hari selalu bareng, dari berangkat,ngekos,sholat,bahkan main pun bareng, tapi ayu yang teman dekatnya pun tak tahu seberapa panjang rambutnya dinda, ayu bilang bhwa setiap hari di kostan dinda tidak pernah membuka jilbab,bahkan saat dikamarpun dinda masih memakai jilbab,"dinda itu buka jilbab cuma saat mandi, saat keluar kmar mandi dinda sudah pakai jilbab lagi loh, jadi ya gak tau sbrapa panjang rambut dinda, mungkin sepinggang, besar soalnya sanggulnya" ucap ayu.
Dengar perkataan ayu membuat aku semakin pensaran, perempuan jaman sekarang kok bisa seperti itu yang tak melihatkan rambutnya pada teman temannya, tak habis cara aku mulai mencari seberapa panjang rambut dinda dari media sosial, tapi hasilnya nihil, ternyata foto yang ada di akun facebook,twitter dinda hanya foto wanita berjilbab yang bercadar.aku mulai kehilangan semangat harus mencari lewat apa, karena dinda orangnya gak mau berbicara sma laki2 jika bukan hal penting atau soal kuliah. Tidak mungkin untuk langsung menanyakan ke dinda seberpa panjang rambutnya.
Enam bulan berllu, pada saat study tour ke bandung dan bali dalam acara kmpus, saya dan dinda satu bis, dan ketika pembagian tempat duduk, tempat duduk saya tepat di samping dinda, ini kesempatan saya untuk mendekati dinda, seperti biasa dinda hanya diam dan tak berbicara, saya mencoba untuk bercanda dengan dia, tapi dia hanya melihat dan diam,
mesKipun berhenti bercanda dan diam, malampun tiba, saya melihat dinda kebingungan mencari sesuatu, saya pun bertanya"dinda nyari apa", dinda "nyari jaket,kok gak ada ya di tasku", aku membantu mencari tp tidak ktemu, dinda lemas, karena dia tidak tahan dingin, tepat tengah malam badan dinda menggigil kedingingan, aku gak tega dan langsung memberikan jaketku kepada dinda, dinda menerima sambil tersyum, itu snyuman pertama yg aku dapatkn. Ketika sudah sampai tujuan, dinda meberikan jaket dan mengucapkan terima kasih, "makasih ya jaketnya,ngebantu banget semalem" ucap dinda, sejak saat itu dinda mulai mau sedikit terbuka ke orang.
Hari demi hari berlalu,kedekatan ku dengan dinda makin akrab, terjadi perubahan pada dinda, orangnya yg pendiem,jadi suka mengobrol sekarang,baju yg dlu longgar, sekarang mulai mengecil,melihatkan betuh tubuh dinda yang bagus, jilbabnya yang lebar,sekarang mulai mengecil, mulai mengikuti model jilbab anak muda jaman sekarang, tapi ada yg slah,sanggulnya yg besar sedikit mengecil, "rambut dinda apa dipotong, kok sanggulnya mengecil" ucapku.
Ketika istihat aku pun bertanya pada dinda,"dinda potong rambut ya?" dinda : "ya, kok tau, soalnya udah kepanjangan sih sering pusing jdinya makanya aku potong" dinda potong sendiri? Iya aku potong sendri,cuma dkit kok, satu jengkal doang kok. Dengar pengakuan dinda tak kuasa menahan diri untuk memotong rambut dinda, akhirnya aku berusaha mendekati dinda untuk menjadi pcarnya,butuh waktu 3 bulan untuk mendapatkan hatinya dinda, dan berpcran dengan dinda
Awal pacaran dengan dinda, kami malu2 untuk memperlihatkn hubungan kita dari teman2 kelas, kami lebih sering keluar dari kampus dan pergi ke kamar kostku jika mau berpcran, suatu ketika fikiranku tentang rambut dinda muncul lg,dan aku langsung bertanya :
Aku : sayang lepas jilbab si
Dinda : gak mau, buat apa?
Aku : pengen liat rambut kmu
Dinda : gk boleh,blom mukhrim.
Aku langsung memegang tangan dinda dan mencium tagan nya, dinda hanya diam tersipu malu, akhirnya aku lanjutkan dengan mencium kening nya, dinda terdiam juga, akhirnya aku mencium bibir dinda yang tipis.
Dinda : sayang udah ciumanya
Aku : iya ( aku tetap mencium bibirnya yang lembut dan tipis)
Dinda : sayaang.. . . Enak..
Mendengar ucapan dinda,aku langsung mengambil kesempatan,aku membuka jilbab dinda, dan betapa kagetnya ketika melihat sanggul dinda yang besar,dan ketika ikatan rambut dilepas, rambut dinda terurai lurus panjang sepantat dengan warna merah bekas dia memakai cat rambut di ujung rambutnya sekitar 15 cm,
Aku : sayang pake cat rambut ya(sambil mengeus-elus rambutnya)
Dinda : iya sayang, mau nyoba pkai cat rambut biar kekiknian,sayang gak suka ya, maaf ya
Aku : gak suka,!
Dinda : maaf loh sayang,yauda nanti aku potong dirumah,janji deh sayang
Aku : yaudah besok aku aja yg motong, sekalian bsok kita maen kekosan kawan ku.
Keesokan harinya, aku dan dinda main kekosan temen, dan hanya ada aku dan dinda krena kwanku pergi kuliah,aku masuk kekamar tmen ku karena sengaja tidak dikunci krena tau kalau aku mau maen, kami berdua melihat film dilaptop berdua, dan ada adegan ciuman, dinda sangat suka ciuman,akhirnya aku langsung mencium bibir dinda yg lembut, tak lupa dia membuka jilbabnya dan mengurai rambutnya,aku peluk dia seeratnya dan terus mencium bibirnya,
Aku : sayang rambutnya aku potong ya,ilangin yg merah abis kena cat
Dinda : iya sayang, yang rapi ya,jgan pndek2
Aku : iya sayang,
Aku langsunh mngambil gunting,lalu mencium nya dlu,saat diam aku potong dikit demi dkit rambut nya kres...kres..rambut merah mulai berjatuhan, dinda tak perduli , dia keasyikan mencium bibirku,aku tetap mencium bibirku, tak kusangka aku memotong terlalu pendek dan hanya tinghal sebahu, dinda menangis, dia menyesal kehilangan rambutnya yg indah,namun berkat rayuan dinda pun tetap tersenyum. Menerima kenyataan rambut nya yang jadi pendek.