Tidak pernah kusangka bahwa pertemuan dengan Delvi adalah pertemuan yang paling indah dalam hidupku. Gadis berhijab yang manis, ramah dan supel, tidak sengaja berkenal di sebuah rumah sakit ketika menjenguk seorang rekan yang sedang pemulihan pasca operasi.
Aku mulai terpikat kepadanya saat Delvi duduk bersama kakaknya di dekat tempatku duduk. Terdengar bahwa mereka sedang membahas aplikasi pada handphone, wah pikirku ini kebetulan sekali bahwa hobiku utak atik software handphone.
Kuberanikan diri untuk menyeletuk soal aplikasi yang mereka bahas dan memberikan sedikit saran untuk perbaikan di handphone Delvi. Delvi begitu antusias mendengarkan penjelasanku sampai akhirnya dia mengerti semua permasalahan dan solusinya. Tidak lama kemudian kakaknya memanggil Delvi untuk pulang sehingga dia pun pamit pulang, padahal kami belum berkenalan dan aku pun belum meminta nomor handphonenya, agak kecewa karena akupun tidak berani memintanya.

Aku hanya bisa memandangi dia sampai akhirnya hilang dibalik tikungan lorong rumah sakit. Akupun lanjut bermain dengan hp ku, tetapi beberapa saat kemudian kulihat Delvi tergopoh-gopoh menghampiriku sambil berkata tukeran nomer handphone dong, namaku Delvi salam kenal yah. Hatiku bagaikan taman bunga dimusim semi yang sangat indah rasanya mendapatkan apa yang aku idamkan.
Setelah pertemuan itu, dimalam harinya sms masuk dari Delvi menyapaku, aku pun menyambutnya dengan antusias, dari situlah aku mengetahui bahwa dia ke Rumah Sakit dengan kakaknya dan seorang lelaki yang ternyata adalah tunangannya, ya dia adalah tunangan yang dijodohkan oleh orang tuanya.
Aku pun menyadari bahwa gadis manis tidak mungkin kumiliki lagi, akhirnya kami pun bersahabat. Persahabatan yang kami jalani sangat intim, bayangkan saja dua insan yang berbeda gender bahkan berbeda keyakinan bisa saling bersahabat dengan baik tanpa mempermasalahkan perbedaan diantara kami.
Delvi dengan segala keluguan dan kepolosan sangat manja sekali kepadaku, beberapa kali dia sering memintaku untuk menemaninya nonton, makan, jalan-jalan dan bahkan ke salon untuk sekedar potong poni dan creambath pun dia tak segan ditemaniku. Dari situlah aku semakin mengaggumi dirinya, ketika tanpa hijab terlihat sekali wajah cantiknya putih mulus sekali tanpa ada noda ditambah dengan rambut hitam legamnya yang menjuntai hingga batas pinggang.
Beberapa kali aku meminta izin untuk membelai rambut indahnya layaknya sepasang kekasih dan dia pun mengizinkannya. Ahh sungguh kenikmatan yang tiada taranya, karena dia pu sering menyenderkan kepalanya ke bahuku sambil memeluk manja tanganku. Mungkin inilah yang disebut sahabat jadi cinta, kami pun berjanji akan terus menjadi sahabat walau apapun yang terjadi.
Suatu hari Delvi menelponku memberitahukan bahwa dia terpilih untuk tugas ke Filipina selama satu tahun dari kantornya, dia begitu sedih dan berat meninggalkan keluarga dan juga aku sahabatnya, namun di satu sisi dia menerima tugas tersebut karena tidak mau dinikahkan dengan tunangannya yang tidak dicintainya, jadi dia bisa mengulur waktu lebih lama untuk perjodohan tersebut.
Sebelum berangkat dia meminta untuk bertemu dengan ku untuk mengucapkan selamat tinggal, dia juga memberikan kenangan yaitu sebuah buku, dia memintaku untuk membacanya setelah sampai di rumah terutama dihalaman terakhir. Aku pun membacanya dari awal sampai akhir buku yang ternyata adalah buku harian Delvi. Akupun mengetahui bahwa dia jatuh cinta kepadaku sejak pertama kali bertemu di rumah sakit, dia memberanikan diri kembali lagi ke rumah sakit hanya untuk meminta nomor handphoneku. Dia bilang aku sangat mirip dengan lelaki pujaan hatinya yang selama ini dia cintai diam-diam, dia adalah kakak dari tunangannya saat ini.
Akupun merespon kejujurannya dengan mengatakan bahwa kita diciptakan berbeda, baik dari suku maupun keyakinan sehingga kita hanya bisa menjadi sahabat. Dia pun menerima hal tersebut dan berjanji akan menjadi sahabat terbaikku.
Selama dia di Filipina, aku hanya bisa menghubunginya via email atau yahoo messengers, kami sering video chat dan juga saling bertukar foto. Aku sampaikan pesan ke Delvi bahwa aku menyukai rambut panjangmu, tolong dijaga dengan baik karena aku menunggu untuk bisa membelainya lagi nanti, dia pun berjanji akan menjaganya dan tidak akan memotongnya. Di dalam hatiku tersimpan rencana, suatu saat aku akan menemaninya memotong rambutnya menjadi pendek sebatas dagu.
Akupun pernah menyampaikannya beberapa kali namun dia menolaknya dengan halus, dia berdalih bahwa risih ketika berambut pendek.
Waktupun berlalu selama 1 tahun lebih sudah Delvi pergi, hingga tiba saatnya dia kembali ke Jakarta dan dia pun meminta kami bertemu di sebuah bioskop di mall daerah timur Jakarta, tidak sabar rasanya ingin melihat sahabatku yang cantik ini, yang terutama adalah seberapa panjang rambut indahnya saat ini. Ketika sudah sampai di mall aku pun menghubunginya, ternyata dia ada di sebuah salon sedang creambath dan potong rambut, aku pun buru-buru tanya dia di salon mana dan bergegas menghampiri. Aku sudah terlanjur terbawa emosi karena dia potong rambut dan aku tidak menyaksikannya,. Ketika sampai disana aku melihat dia hanya potong poni saja, huff hampir saja aku melewatkan momen yang aku nantikan.
Dia pun mengajakku langsung menuju bioskop, dia sengaja kesalon agar aku bisa menikmati membelai rambut indahnya nanti di bioskop. Senang sekali rasanya sepanjang film tanganku sibuk melampiaskan hasrat hair fetishku pada rambut indahnya yg sudah sepanjang pantatnya. Saat itu dia memelukku dengan erat, dia bilang kangen sekali sama aku dan tiba-tiba dia mengecup bibirku hingga akupun terdiam dan kami sama-sama tersipu malu.
Dia meminta maaf, aku tidak mau memaafkannya kecuali aku boleh membalasnya. Hehehe.. aku pikir ini kesempatan bagus.
Hubungan mesra ini terus berlanjut, beberapa kali kami berjalan-jalan sambil berangkulan dan berpelukan seperti sepasang kekasih yang dibuai asmara, beberapa kesempatan ciuman panas pun kami lakukan. Aku benar-benar menikmatinya.
Beberapa waktu kemudian aku mendapat kabar bahwa tanggal pernikahannya sudah ditentukan 2 bulan lagi. Aku pun semakin menjauh dari Delvi, bahkan hingga saat terakhir dia akan menikah kami tidak bertemu lagi, dia pun meminta maaf dan mengaku terpaksa menerima perjodohan ini, dia bertanya apakah yang aku minta sebelum dia menikah? Akupun meminta rambut indahnya untuk kusimpan sebagai kenangan namun Delvi tidak mau memberikannya.
Pada hari pernikahannya aku memutuskan untuk tidak hadir, aku tidak sanggup melihat dia bersama orang yang tidak dicintainya. Waktupun terus berlalu hingga ku dengar dia sudah memiliki seorang anak perempuan yang mungil, kami tetap menjalin persahabatan ini tapi tidak semesra dahulu. Keinginanku untuk melihat dia potong rambut pendek tetap menggebu-gebu, setiap kali kuminta selalu saja di tolak. Hingga suatu saat aku iseng menanyakan hal yang sedikit tabu, enak ga sih nikah? Dia bilang enak dong, bisa punya suami dan anak, dia pun sudah belajar mencintai suaminya. Aku bertanya lagi, sakit gak pas malam pertama, dengan polosnya dia menjawab sakit sih tapi lama-lama juga enak kok. Makanya nikah biar merasakan juga kata Delvi kepadaku, aku pun dengan nakal menjawab ajarin dong biar jago pas nikah, dia menjawab nanti juga bisa sendiri. Hahahahaha.. sangat polos sekali dia.
Beberapa waktu kemudian aku memberanikan diri mengajaknya nonton, dibioskop dia memelukku sangat erat hingga birahiku pun naik dan tanpa sengaja senjataku naik dan dia pun menyadari tonjolan di celanaku, Delvi bertanya kok itu ada yg nonjol, aku pun menjawab ini gara-gara kamu jadi begini. Kamipun tertawa. Dia penasaran rupanya, gedenya semana sih? Cek aja sendiri, tanpa kuduga dia meraih senjataku dari luar celana, ah kecil katanya. Aku bilang sama Delvi, mana ketahuan kalo ndak pegang langsung.
Diapun memberanikan diri membuka seleting dan memasukan tangannya untuk menggenggam senjataku. Hhhmmm benar-benar nikmat genggaman wanita cantik ini, dia bilang ah masih gedean suamiku. Reflek aku menjawab ini kan belum maksimal kan didalam celana. Oh begitu yah katanya. Karena dia sudah memegang senjataku aku pun bertanya, dada kamu ukuran berapa sih kok besar juga. Dia menjawab, 36 dong. Wah pantas besar sekali, coba aku pegang, silahkan kata Delvi, wah benar sekali besar juga payudaramu ini, lembut dan kenyal.
Semenjak peristiwa itu dia sering bertanya apa benar senjataku bisa lebih besar? Aku menjawab itu tergantung seberapa hebat kamu membesarkannya. Dia pun menjawabnya dengan penuh percaya diri. Aku pasti bisa dong. Temui aku di hotel X hari sabtu ini dengan syarat kamu diam saja, biar aku yang memberikan hadiah terindah untukmu.
Oke siapa takut jawabku, seperti durian runtuh rasanya diberi hadiah ini, aku pun mulai sedikit berpikiran nakal, aku membawa sebuah gunting, hanya gunting kertas biasa tapi agak besar.
Aku tiba di hotel H dihari sabtu dan memesan sebuah kamar biasa dan langsung masuk ke dalam. Kuhubungi Delvi dan memberitahukan nomer kamar yg kupesan, 1 jam kemudian dia datang dengan hijan biru baju hijau dengan kancing seletingseparuh dada saja.
Akupun memeluk dia begitu dia masuk kekamar, ku kecup bibir manisnya dan kuremas dadanya sampai dia menegur bahwa perjanjiannya aku tidak boleh berbuat apa-apa kepadanya selain diam, akupun menurutinya.
Hatiku dag dig dug, begitu juga Delvi, sangat gugup katanya. Aku pun sabar sampai dia relax dan kemudian berkata lepas celana kamu. Akupun menurut, kulepas celana jeans panjangku hingga hanya cd yang tersisa. Aku disuruh tidur terlentang dan memejamkan mata,
kurasakan tangan dingin mulai menjamahi selangkangan ku dan memijit biji adik kecilku dan akhirnya memijat batang kemaluanku sambil dikocok lembut, arg nikmat sekali, aku menikmatinya sambil mengerang penuh nafsu. Setelah 5 menit kurasakan ada sesuatu yg dingin menyentuh senjataku, ternyata dia mulai menjilati penisku dan memasukannya kemulutnya, arh teriakkku penuh kenikmatan. 30 menitpun berlalu dan aku mulai mencuri buka mata melihat aktifitas dia melahap kemaluanku, dia pun berteriak manja, ahhhh jangan dilihat mas aku maluuuu. Aku menjawab tidak apa-apa, masa sama aku malu-malu. Akupun mencoba bangkit untuk duduk sambil meraih rambut indahnya yg sudah sepanjang pantatnya yg sangat sexy.
Dia melakukan blow job sambil ku hairjob. Delvi iseng berkata, mas lagi crembath rambut aku yah? Aku pun menjawab iya cremabath, abis itu mau aku potong pendek sedagu, dia balas menjawab oh mau dipotong yah mas silahkan potong saja, aku pun semakin nafsu menjawab beneran nih boleh dipotong? Dia dengan pede menjawab kalau mau potong aku kasih kesempatan saat ini saja yah hahaha itu juga kalo ada guntingnya dengan nada puas meledek aku.
Dengan semangat aku berkata bener nih kalau ada guntingnya sekarang boleh aku potong? Jawab Delvi dengan manis boleh aja sayang asalkan ada guntingnya saat ini juga dan tidak boleh nyari keluar dulu. Aku langsung melompat kearah tas ku dan mengeluarkan gunting yang sudah kusiapkan sebelumnya, aku berkata ada nih jadi dong dipotong? Betapa terkejutnya dia bahwa ternyata aku memiliki sebuah gunting, dia pun mulai merengek memohon untuk tidak dipotong dia meminta gunting tersebut dan menaruhnya kembali diatas meja. Aku pun kecewa sekali, dia menghiburku dengan membiarkan ku memainkan payudaranya dan menghisapnya.
Karena sudah kepalang tanggung aku pun nekat bertekat untuk bisa memotong pendek rambut Delvi. Aku memintanya untuk mengoral penisku lagi dan dia menurutinya, diam-diam kuambil gunting kuletakan disampingku.
Delvi terus mengoralku dengan kuat dan aku pun sambil memaikan rambut panjang indahnya, perlahan ku kumpulkan jadi satu genggaman dan ku jambak dengan mengikuti gerakan mulutnya mengoralku. Sampai pada puncaknya aku ambil gunting itu dan kupotong genggaman rambut yg aku pegang sejak tadi dengan cepat sampai setengah potongan Delvi pun meyadari sambil berteriak kamu ngapain. Akupun terus memotong sampai selesai ponytail itu terlepas dari kepala Delvi.
Dia pun menjerit berlari ke arah kamar mandi untuk mencari cermin, dia pun berteriak kamu tegaaaa, apa salahku sama kamu sampai kamu tega perlakukan ini sama aku. Aku pun meminta maaf dan memeluk Delvi sambil berkata aku khilaf. Dia mengambil gunting dan pergi bke cermin untuk merapikan sisa rambut yang tidak terpotong sambil menangis tersedu-sedu. Dia mengambil ponytail yg aku potong dan memasukan semua potongan rambut indahnya ke tas. Dia merapikan pakaian dan pergi meninggalkanku yg masih merasa puas sambil menyesal karena menyakiti sahabtku sendiri.
Beberapa jam kemudian dia membalas sms permintaan maaf ku. Dia memaafkan ku dan dia bilang sekarang rambutnya sudah dirapihkan di salon, pendek sekali dia potong bob sedagu. Dia mengirimkan foto tapi dengan wajah sembab karena menangis, seumur hidup baru kali ini dia berambut pendek.
Aku menyesal telah membuatnya bersedih dan akhirnya dia memutuskan untuk tidak menghubungiku lagi sampai detik ini, dia ingin menjaga keutuhan keluarganya.
Terimakasih Delvi, aku mencintaimu sampai saat ini.