Suara ketukan pintu memecah keseriusan pelajaran kimia. Guru kimia yang sedari tadi memberikan soal soal latihan membuka pintu dan mendapati Pak David--guru bahasa inggrisku berdiri. Ia berbicara sebentar dan Pak David melihat ke arahku.
"Maaf, saya mau memanggil Felly," ujar Pak David. Aku mendekat dan Pak David mengajakku keluar. Tak lupa ia meminta izin dengan sopan kepada guru kimia yang sedang mengajar kala itu.
"Ada apa, Dad?" Banyak dari muridnya--termasuk aku yang memanggil Pak David dengan sebutan daddy.
"Ada perlombaan dan saya mempercayakannya padamu. Mau ya?"
"Ya, Dad," ucapku tersenyum.
***
Pembinaan perlombaan berjalan lancar. Padahal baru hari pertama namun semuanya sudah hampir sempurna. Aku sangat senang, bukan hanya karena aku dipercaya untuk mengikuti perlombaan, namun juga daddy yang sangat perhatian padaku. Di sekolah terfavoritku ini sangat sulit untuk mendapatkan perhatian guru secara khusus karena memiliki kelebihan tertentu--dan aku mendapatkannya.

"Fell, kamu nggak bosan ya, dari dulu kamu pertama kali pembinaan dengan saya--waktu kelas sepuluh sampai sekarang model rambutmu nggak pernah berubah," ujar daddy membuka pembicaraan. Aku terkejut, baru kali ini daddy membahas hal itu.
"Iya, Dad. Saya nggak terlalu mikirin hal itu," jawabku.
"Nggak ribet juga ya punya rambut sepanjang itu? Perlu treatment yang rumit juga lho biar rambutnya tetap sehat."
"Saya cuma keramas doang kok, Dad," jawabku. 'Ini kenapa daddy jadi mbahas rambutku?' batinku
"Hmm, nggak mau ganti style? Biar lebih beda lah. Saya bisa bantu kalau kamu mau," ujarnya.
"Terimakasih, Dad. Kapan-kapan saja," ucapku sambil tersenyum.
"Jangan lupa ya selalu ikat rambutmu, kan nggak tahu kalau ada razia," ujar daddy. "Lapar? Kantin yuk, saya traktir." Aku menurutinya
***
"Sial!" umpatku.
Aku bangun kesiangan. Jam telah menunjuk pukul enam dan aku belum menyiapkan apa-apa. Apalagi hari ini hari senin dan butuh waktu paling cepat tiga puluh menit untukku sampai sekolah. Aku harus berangkat kurang dari setengah tujuh. Firasatku mengatakan akan terjadi sesuatu.Sudahlah jalani saja.
Jam menunjukkan pukul enam lebih dua puluh lima, aku harus bergegas. Aku sampai tak punya waktu untuk sarapan, apalagi untuk mengikat rambutku. Aku tinggal di kos jadi wajar saja jika aku tak terlalu peduli dengan keadaanku. Daripada telat dan kena hukuman, lebih baik tidak usah terlalu memikirkan hal yang sepele. Toh bisa dilakukan di sekolah.
Beruntung bis yang aku tumpangi melaju cepat. Masih ada waktu tujuh menit untuk sampai di kelas. Lega rasanya.
Ternyata dewi fortuna tak berpihak kepadaku. Aku lupa membawa ikat rambutku padahal bel telah berbunyi. Semua teman perempuanku sudah aku tanya untuk meminjamkanku ikat rambut tapi mereka hanya membawa satu. Aku pasrah sambil berjalan menuju lapangan. Biarlah jika ini takdirnya.
Upacara bendera kali ini tak seperti biasanya. Biasanya sebelum upacara, semua siswa dicek kelengkapan atribut dan hal-hal yang bersangkutan. 'Mungkin ini keberuntunganku,' batinku.
Upacara berjalan lancar seperti biasa. Aku terlalu bosan untuk mendengarkan MC membacakan hasil kompetisi yang diraih minggu kemarin. Tak ada namaku masalahnya. Setelah itu, seluruh murid tak boleh meninggalkan lapangan. Semua dicek kelengkapan atribut. Hatiku gemetar. Tiba-tiba bagian Pak Anton selaku kesiswaan menyuruh semua murid untuk melepas topinya, tak terkecuali. Aku hanya pasrah. Guru-guru turun langsung untuk mengecek agar tidak terjadi pelanggar yang lolos. Semua murid yang taat peraturan boleh meninggalkan lapangan.
Detik demi detik berlalu, hampir semua murid meninggalkan lapangan. Aku hanya menunduk--pasrah. Rambutku yang sepantat panjangnya berkibar tertiup angin--berantakan. Aku tak peduli. Ku lihat hanya ada lima siswi yang masih ada di lapangan, termasuk aku.
"Yang masih di lapangan maju ke depan tiang bendera," teriak Pak Anton. Aku menurutinya. Kami berbaris rapi. Aku siap menerima hukuman.
"Kalian pikir kalian bangga dengan pelanggaran peraturan ini. Hanya kalian berlima yang melanggar bisa merusak citra sekolah ini. Apa yang sudah kalian berikan untuk sekolah ini? Hah? Kalian puas bisa melanggar peraturan. Kalian pasti tahu apa yang kalian langgar. Kami tidak ingin hal ini terjadi lagi, jadi--" Kulihat daddy dengan tatapan tajam berjalan ke arah Pak Anton sambil membawa sebuah kain dan GUNTING. Mataku terbelalak. Apa maksudnya?
"Pak David yang akan memberikan kalian hukuman," bentak Pak Anton. Aku lemas. Daddy yang mulai menjalankan aksinya pada temanku yang paling ujung membuat jantungku berdegup kencang. Aku berada di sisi lain, yang artinya akulah yang terakhir. Aku menenangkan diriku dan berdoa semoga Daddy tidak memotong rambutku terlalu pendek.
Suara gunting yang beradu dengan rambut temanku membuatku semakin ketakutan. Aku ingin menangis.
Tibalah giliranku. Aku melirik ke sisi kananku dan semua temanku telah berambut seleher. Aku takut.
Daddy berjalan ke arahku dan memasang kain cape di tubuhku. Lalu ia mengikat rambutku pada pertengahan leherku. Aku tidak siap jika rambutku dipotong pendek. Aku hanya bisa pasrah.
Kress kress kress
Rambutku mulai berjatuhan. Aku tak kuat mendengarkan suara itu. Aku menangis sejadi-jadinya. Mungkin Daddy mendengar sesenggukan ku, tapi Daddy tetap cuek dan melanjutkan memotong rambutku.
Kress kress kress
Semilir angin mulai menyapa rambut baruku, menggelitik leherku--yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Ponytailku terlepas dan Daddy menyerahkannya padaku. Tangisku semakin pecah.
Suara dentingan gunting masih terdengar. Kini Daddy tengah asik menjamah seluruh bagian rambutku. Tak ada lagi rambut panjang, kulihat ujung rambutku hanya sepanjang dagu. Semilir angin terasa lebih dingin dari biasanya. 'Kenapa Daddy memotong rambutku lebih pendek dari yang lainnya?' batinku
Daddy beralih ke depanku. Daddy mengambil sebagian rambutku dan memotongnya--membuatkanku poni--hal yang tak pernah kumiliki selama ini. Aku tak peduli. Ku tak tahu sebelumnya jika ia bisa memotong rambut.
Akhirnya kain cape putih terlepas dari tubuhku. Aku menyeka air mataku dan berusaha tersenyum. Tiba-tiba daddy menepuk bahuku dan berbisik, "maaf, saya memotong rambutmu terlalu pendek."
***
Aku takut memasuki kelas. Semua teman sekelasku melihat ke arahku. Tatapan keterkejutan mereka membuatku semakin takut memasuki kelas. Tiba-tiba Krisna--ketua kelasku-- menghampiriku dan tersenyum kepadaku.
"Kamu tampak lebih cantik, Fell," ujar Krisna. "Nggak usah malu lah."
"Makasih ya," jawabku. Aku berjalan pelan menempati tempat dudukku. 'Krisna memuji penampilanku?' batinku bahagia.
***
Bel istirahat berbunyi. Tiba-tiba Krisna mendekatiku dan membungkuk di depanku. Di tangannya terdapat serangkaian mawar merah.
"Fell, maaf jika aku lancang. Kau telah mencuri hatiku dan setiap waktu aku selalu memikirkan tentangmu. Felly, maukah kau jadi pacarku?" ujarnya.
Hatiku berdegup kencang. Aku tak menyangka lelaki pujaanku berkata seperti itu.
"Ya," jawabku bahagia.
Hari ini mengajarkanku bahwa tidak setiap awal yang buruk selalu memberikan akhir yang buruk pula. Aku percaya bahwa Tuhan selalu memberikan hal terindah pada waktu yang tepat